Sepulang dari sebuah stasiun TV lokal, aku berencana mengunjungi tempat wisata bersama salah seorang teman. Tak jauh setelah keluar dari gerbang stasiun TV tersebut, motor yang aku tumpangi mulai goyang. Benar saja, ban belakang sepeda motor ku bocor di tengah jalan. Dalam hati, aku kesal. Segera aku mencari tukang tambal ban terdekat.
Setibanya di sana Pak Tukang Tambal Ban dengan sigap menghampiriku dan memeriksa keadaan motorku.
(Percakapan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia)
"Bocor ini mbak, harus diganti ban baru. Soalnya bannya sobek, ketusuk paku."
"Oh, iya pak. Diganti saja ban nya."
"Duduk dulu mbak."
"Iya Pak."
Pak Tukang Tambal Ban tersebut langsung melakukan pekerjaannya. Sembari menunggu, aku mengamati kejadian yang ada di depanku; Bapak Tukang Tambal Ban yang sedang menambal ban motorku. Lalu aku menyadari sesuatu. Perihal ketidak beruntungan yang aku alami hari ini. Ternyata bisa menjadi jalan rezeki bagi orang lain.
Aku menghela nafas dan tak jadi mengumpat karena kesal.
Seringkali diri ini tidak menyadari bahwa ketidak beruntungan yang dialami bisa jadi adalah jalan rezeki bagi orang lain. Betapa sering diri ini menyacat nikmat dengan mengumpat.
"Sudah selesai mbak."
Aku pun berdiri dan membayar Bapak Tukang Tambal Ban tersebut.
"Terima kasih, Pak."
0 komentar: