Lagi-lagi fenomena “Don’t judge a book by it’s cover”
terjadi.
Hari ini aku bertemu dengan satu sosok manusia yang luar
biasa.
Siapa sangka, dibalik sesosok pria sederhana berumur 43
tahun yang tak lulus SMP tersebut terdapat satu jiwa yang sungguh luar biasa.
Ia sudah melalang buana, mungkin hampir ke seluruh
nusantara.
Semua rasa kehidupan mungkin sudah dicicipinya.
Manusia itu bernama Heri Istiyaadi. Seorang serviceman pest control di tempatku
magang.
Cerita tentang kejadian-kejadian yang ia alami dalam
kehidupannya membuatku terpana.
Sungguh luar biasa.
Aku suka cara berpikirnya tentang kehidupan.
Banyak ilmu yang dapat diambil dari kisah kehidupannya.
Pak Heri bilang dia bekerja karena dia mencintai lingkungan
kerjanya. Sudah berkali-kali dia pindah tempat kerja karena tak cocok dengan
dirinya.
Kini, dia bekerja
sebagai serviceman.
Sudah 5 tahun Pak Heri betah menjadi seorang serviceman.
Padahal, dulu dia pernah bekerja di Pertamina dengan gaji
yang bisa dibilang luar biasa.
Intinya, Pak Heri
lebih memilih kebahagiaan batin daripada materi.
Pak Heri juga menceritakan tentang awal mula pertemuannya
dengan sang istri.
Lagi-lagi ceritanya membuatku terpana.
Pak Heri bilang dia bertemu dengan sang Istri saat sedang
berada di puncak Gunung Ungaran. Coba bayangkan. How romantic!
Ternyata Pak Heri dan Istrinya gemar naik gunung atau
muncak. Ya, bisa dibilang Pak Heri adalah seorang pecinta alam.
Hampir seluruh gunung di Jawa Tengah pernah ditaklukan oleh
Pak Heri. Kerinci, Merbabu, Sindoro, Semeru, Slamet, Lawu dan masih banyak
lagi.
Kata Pak Heri, orang yang biasa muncak biasanya rasa solidaritasnya tinggi antar sesama.
Who knows?
Ada sebuah kisah yang menjadi kenangan tak terlupakan oleh Pak
Heri ketika ia mendaki gunung.
Ia pernah disangka sebagai teroris saat ia mendaki gunung
Merbabu.
Kala itu masih era Presiden Soeharto.
Waktu itu saat mendaki Merbabu, salah seorang temannya
kritis akibat kedinginan dan hampir tak bernyawa.
Ingin meminta pertolongan tapi alat komunikasi berupa HT (Handy Talky) yang dibawanya tak berfungsi.
Melihat temannya yang semakin sekarat, akhirnya Pak Heri dan
teman-teman yang lainnya memutuskan untuk menggali lubang.
Ketika Pak Heri dan teman-temannya menggali lubang, tak
sengaja mereka menemukan kabel.
Lalu mereka berinisiatif memotong kabel tersebut sebagai
penambah frekuensi HT agar alat tersebut bisa berfungsi.
Ternyata kabel yang dipotong tersebut adalah kabel komunikasi
rahasia milik Indonesia, agar negara lain tak bisa menyadap.
Akhirnya, Pak Heri dan teman-temannya dikepung oleh tentara
dan diminta turun saat itu juga dari gunung Merbabu.
Sambil menggendong temannya yang sekarat Pak Heri dan
gerombolannya pun turun.
Mereka dibawa ke Magelang, tepatnya di Tidar untuk dimintai keterangan.
Setelah membeberkan kronologinya, Pak Heri dan gerombolannya hanya dikenai wajib lapor.
Tapi, selalu ada berkah di balik setiap kejadian kan?
Akibat kejadian tersebut, temannya yang sekarat itu dapat
tertolong nyawanya.
Hehehe…
Sungguh cerita yang mendebarkan.
Kejutan cerita tak hanya sampai disitu.
Pak Heri ternyata dulunya adalah seorang penganut Katolik.
Ia memeluk Islam setelah mengalami kejadian spiritual saat mendaki gunung.
Saat itu Ia mendengar suara sayup-sayup adzan di gunung.
Kemudian dari jauh Pak Heri melihat ada seorang tua renta yang menggendong beberapa ikat kayu di punggungnya.
Kemudian orang tua itu mendekat dan berkata kepada Pak Heri.
"Kalau mendengar suara seperti itu, resapilah.."
Pak Heri tak menggubrisnya dan masuk ke dalam tenda untuk mengambil minuman.
Tak ada semenit. Ketika ia keluar dari tenda, orang tua itu sudah lenyap. Menghilang.
Sejak saat itu, saat Pak Heri mendengar suara adzan selalu diresapinya.
Hingga pada suatu ketika, Ia memantabkan dirinya memeluk Islam.
Pak Heri juga bercerita, kalau dulu Ia adalah anak yang nakal.
Suka minum minuman keras dan sebagainya.
Dulu...
Cerita masih terus berlanjut.
Pak Heri ternyata juga suka menulis.
Sebelum mengakhiri pembicaraan dengan Pak Heri, karena aku tahu Pak Heri Suka menulis.
Aku meminta Pak Heri untuk menorehkan tulisannya ke dalam buku catatanku.
Berikut tulisannya:
"Tentang Risau"
Risau hatiku
Lama menantikanmu
Hati dalam kerinduan
Risau dalam penantian
Bila malam telah tiba
Kutanya bulan kemana kau pergi
Bila fajar tlah menyingsing
Kutanya matahari kapan kau kembali
Risau hatiku
Lama mendambakanmu
Kudekap bayangan itu
Begitu erat
Ah, jauh.. jauh..
Aku melangkah dalam lamunan
Berteman mimpi dan sepi
---
Sebenarnya masih banyak yang ingin aku tuliskan tentang Pak Heri dan kehidupannya.
Tapi saking luar biasanya cerita dari Pak Heri, aku sampai bingung bagaimana menuangkannya ke dalam tulisan.
0 komentar: